TUGAS
EKONOMI MAKRO
“INFLASI”
Oleh :
Arismon
Munandar
3213.138
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
SJECH M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
INFLASI
Apa yang terpikir oleh anda ketika mendengar
kata inflasi,? kali ini penulis ingin membahas tentang inflasi. Apakah anda
tahu apa itu inflasi,? faktor faktor inflasi,? Jenis jenis inflasi,? penyebab inflasi,? dampak inflasi,? cara
mengatasi inflasi dan bagaimana inflasi itu di indonesia. Check it out!!
A.
PENGERTIAN
INFLASI
Dalam ilmu ekonom, inflasi adalah suatu proses
meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan
dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain,
konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu
konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya
ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga
merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah
indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses
kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga.
“Dengan
demikian inflasi adalah suatu gejala
gejala kenaikan harga barang barang yang sifatnya itu umum dan terus
menerus atau suatu
keadaan dimana peredaran uang secara umum lebih besar dibandingkan peredaran
barang atau terjadi penurunan nilai mata uang di suatu negara pada
periode tertentu”.
Dan dapat dikatakan inflasi apabila ada 3
faktor yaitu, kenaikan harga, bersifat umum, dan terus menerus.
·
Kenaikan Harga
Maksudnya Harga barang dapat di
katakana naik jika harganya menjadi tinggi dari harga sebelumnya. Contohnya
harga BBM yaitu Rp65,00/ltr pada mingu lalu, sedangkan pada minggu ini harga
BBM menjadi Rp85,00/ltr lebih mahal dari minggu kemarin.
·
Bersifat Umum
Maksudnya kenaik harga suatu barang
tidak dapat di katakana inflasi jika naiknya barang tersebut tidak menyebabkan
harga-harga secara umum . Contohnya : jika harga BBM naik maka ongkos angkutan
umum,bahan-bahan pokok menjadi naik ini baru biasa disebut inflasi.
·
Berlansung Terus Menerus
Maksudnya naiknya harga suatu barang tidak dapat di katakana inflasi jika
naiknya barang tersebut terjadinya hanya sesaat, inflasi itu dilakukan dalam
rentang minimal bulanan.
B. JENIS JENIS INFLASI
Jenis-jenis inflasi bisa kita
bedakan berdasarkan tingkat keparahannya, penyebabnya, berdasarkan asal
terjadinya dan berdasarkan persentasi atau
nominal digit inflasinya
1. Berdasarkan
Tingkat Keparahannyan Atau Laju Inflasi
·
Inflasi
rendah
Inflasi
dikatakan rendah jika kenaikan harga berjalan sangat lambat dengan persentase
kecil, yaitu di bawah 10% setahun
·
Inflasi
sedang
Suatu
negara dikatakan mengalami inflasi sedang, jika persentase laju inflasinya
sebesar 10% – 30% setahun.
·
Inflasi
tinggi
Inflasi
dikatakan tinggi jika laju inflasinya berkisar 30% – 100% setahun.
·
Hiperinflasi
Hiperinflasi dapat terjadi jika laju
inflasinya di atas 100% setahun. Apabila suatu negara mengalami hiperinflasi,
maka masyarakat tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap uang, mereka lebih
memilih menukarkannya dengan barang tertentu seperti emas atau menukar dengan
mata uang asing.
2. Inplasi
Berdasarkan Penyebabnya
·
Demand-pull inflation
Timbul
apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi
produktif perekonomian.
·
Cost-push inflation
Inflasi yang diakibatkan oleh
peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya
yang kurang efektif.
3. Inflasi
Berdasarkan Asalnya
·
Inflasi
karena defisit APBN
Inflasi jenis ini terjadi sebagai akibat
adanya pertumbuhan jumlah uang yang beredar melebihi permintaan akan uang.
·
Imported inflation
yaitu inflasi yang terjadi di suatu
negara, misalnya beberapa barang di luar negeri yang menjadi faktor produksi di
suatu negara, harganya meningkat, maka kenaikan harga tersebut mengakibatkan
meningkatnya harga barang di negara tersebut.
4.
Inflasi Berdasarkan
Persentasi atau Nominal Digit Inflasinya
·
Moderate Low Inflation (inflasi 1 digit)
Misalnya 1% s.d 9%, biasanya orang
masih percaya dan memiliki daya beli dan juga nilai mata uang masih berharga.
·
Galloping Inflation (inflasi dua digit)
Misalnya 10% s.d 99%, dimana orang mulai ragu, daya beli menurun, nilai
mata uang menjadi semakin menurun.
·
Hyper Inflation (inflasi tinggi diatas 100%)
Adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan
tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam jangka waktu yang
singkat, keadaan seperti ini orang-orang sudah tidak percaya pada mata uang.
Dimana nilai nominal uang jadi tidak berharga jika situasi ini terjadi maka
pemerintah melakukan Senering
yaitu pemotongan nilai uang.
C. PENYEBAB INFLASI
Inflasi
dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (demand pull inflation) dan yang kedua
adalah desakan biaya ( cost pluss inflation).
Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari
peran negara dalam kebijakan moneter, sedangkan untuk sebab kedua lebih
dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini
dipegang oleh Pemerintah seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),
kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
·
Demand-pull inflation
(tarikan permintaan)
Bertambahnya
permintaan terhadap barang dan jasa menyebabkan bertambahnya permintaan
faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap produksi menyebabkan
harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi terjadi karena kenaikan dalam
permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi yang
ditimbulkan oleh permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan
pada tingkat harga dikenal dengan istilah demand pull inflation.
·
Cost-push inflation (desakan biaya)
Inflasi
ini terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.
Peningkatan biaya produksi itu bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya
masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam,
cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi
(penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di
pasaran.
D.
DAMPAK
INFLASI
Inflasi
mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi kegiatan perekonomian secara
luas. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif atau pun positif,
tergantung pada tingkat keparahannya.
·
DampakPositif
Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku. Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per tahun dan tingkat inflasi 5%. Bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, karena para pengusaha/ wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.
Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku. Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per tahun dan tingkat inflasi 5%. Bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, karena para pengusaha/ wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.
·
Dampak Negatif
Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran masyarakat. Dampak inflasi tersebut, antara lain:
Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran masyarakat. Dampak inflasi tersebut, antara lain:
ü Dampak
Inflasi terhadap Pemerataan Pendapatan
ü Dampak
Inflasi terhadap Output (Hasil Produksi)
ü Mendorong
Penanaman Modal Spekulatif Menyebabkan Tingkat Bunga Meningkat dan Akan
Mengurangi Investasi
ü Menimbulkan
Ketidakpastian Keadaan Ekonomi di Masa Depan
ü Menimbulkan
Masalah Neraca Pembayaran
E.
CARA
MENGATASI INFLASI
Usaha untuk mengatasi terjadinya
inflasi harus dimulai dari penyebab terjadinya inflasi supaya dapat dicari
jalan keluarnya. Secara teoritis untuk mengatasi inflasi relatif mudah, yaitu
dengan cara mengatasi pokok pangkalnya, mengurangi jumlah uang yang beredar.
Berikut ini, Anda beberapa
kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi, yaitu:
1.
Kebijakan
Moneter
Menurut teori moneter
klasik, inflasi terjadi karena penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian,
secara teoretis relatif mudah untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan
mengendalikan jumlah uang beredar itu sendiri. Kebijakan moneter adalah
tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengurangi atau menambah
jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar terlalu
Jenis-jenis
Kebijakan Moneter
·
Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy)
Adalah
suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini
disebut juga kebijakan moneter longgar (easy
money policy)
·
Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary
contractive policy)
Adalah
suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga
dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)
Kebijakan
moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter,
yaitu antara lain :
·
Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi
pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau
membeli surat berharga pemerintah.
·
Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas
diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat
bunga bank sentral pada bank umum.
·
Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah
dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah.
·
Imbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan
moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan
memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.
2. Kebijakan Fiskal
Bagaimana kebijakan fiskal
dapat mengendalikan inflasi? Seperti Anda ketahui, kebijakan fiskal adalah kebijakan
yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal
dilakukan pemerintah untuk mengurangi inflasi adalah mengurangi pengeluaran
pemerintah, menaikkan tarif pajak dan mengadakan pinjaman pemerintah.
Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan
yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui
pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda
dengan kebijakan moneter. yang bertujuan
men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang
yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak.
Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat
memengaruhi variabel-variabel berikut:
·
Permintaan agregat dan tingkat aktivitas
ekonomi
·
Pola persebaran sumber daya
·
Distribusi pendapatan
Pemerintah
menjalankan kebijakan fiskal adalah dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian atau dengan perkataan lain, dengan kebijakan fiskal pemerintah
berusaha mengarahkan jalannya perekonomian menuju keadaan yang diinginkannya.
Dengan melalui kebijakan fiskal, antara lain pemerintah dapat mempengaruhi
tingkat pendapatan nasional, dapat mempengaruhi kesempatan kerja, dapat
mempengaruhi tinggi rendahnya investasi nasional, dan dapat mempengaruhi
distribusi penghasilan nasional.
3.
Kebijakan
Non-Moneter dan Non- Fiskal
Selain kebijakan moneter
dan kebijakan fiskal, pemerintah melakukan kebijakan nonmoneter/ nonfiskal
dengan empat cara, yaitu:
·
Menaikkan hasil produksi.
·
Menstabilkan upah (gaji).
·
Pengamanan harga, serta
·
Distribusi barang.\
LAPORAN INFLASI
(Indeks Harga Konsumen)
Berdasarkan
perhitungan inflasi tahunan
|
F. TINGKAT INFLASI DI INDONESIA
Bulan Tahun
|
Tingkat
Inflasi
|
Oktober
2014
|
4.83
%
|
September
2014
|
4.53
%
|
Agustus
2014
|
3.99
%
|
Juli
2014
|
4.53
%
|
Juni
2014
|
6.70
%
|
Mei
2014
|
7.32
%
|
April
2014
|
7.25
%
|
Maret
2014
|
7.32
%
|
Februari
2014
|
7.75
%
|
Januari
2014
|
8.22
%
|
Desember
2013
|
8.38
%
|
Nopember
2013
|
8.37
%
|
Oktober
2013
|
8.32
%
|
September
2013
|
8.40
%
|
Agustus
2013
|
8.79
%
|
Juli
2013
|
8.61
%
|
Juni
2013
|
5.90
%
|
Mei
2013
|
5.47
%
|
Semoga pembahasan diatas tentang Pengertian Inflasi bisa bermanfaat
bagi anda semua. Dan apa bila ada dari anda yang menemukan kesalahan baik
berupa penulisan atau pun pembahasan, mohon kiranya kritik dan saran yang
membangun untuk kemajuan bersama, Thank you.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Putong,
Iskandar.2008.Pengantar Mikro dan Makro.Jakarta.Mitra Wacana Media.
Manulanggang, M.1993.Ekonomi
Moneter.Jakarta.Ghalia